Wednesday, May 15, 2013

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 5: Cantraka Hitam Menguji Ilmu Hitamnya"


Perbuatan Cantraka Hitam yang menyekutukan Allah SWT merupakan perbuatan dosa yang tidak terampuni. Dia juga menyombongkan kemampuannya untuk dapat menyembuhkan orang, mencari pesugihan dan sebagainya menggunakan bantuan keris yang mengatakan bahwa kerisnya adalah hidup dan matinya. Padahal ilmu dan kemampuannya itu hanyalah sementara saja. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi umatnya yang mau bertaubat. Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat dan memperbaiki perilakunya. Untuk itu, kita harus meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah dan memiliki rasa ikhlas dalam perbuatn kita.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas"


Dari artikel tersebut, terlihat bahwa Cantraka Sakti sangatlah menyombongkan dirinya. Ia juga menyombongkan hal-hal keduniawian yang telah dicapainya. Bahkan dalam mengikuti ritual ikhlas tersebut hanya karena untuk mengisi waktu senggangnya. Ia belum memiliki keikhlasan dalam melakukan setiap perbuatannya. Untuk itu, dalam menjalankan perbuatan hendaklah kita mulai dengan niat yang ikhlas, niat yang timbul dari dalam diri kita. Dengan niat yang ikhlas tersebut, kita hanya mengharap ridho Allah SWT dari perbuatan kita.

Tuesday, May 14, 2013

Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif? (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)"


Pada dasarnya terdapat perbedaan antara matematika murni dengan pendidikan matematika. Keduanya memang berjalan dalam ranah yang berbeda. Jika matematika murni dengan melakukan riset-riset, sedangkan pendidikan murni dengan mengajar dalam pendidikan. Sehingga, seperti dalam artikel tersebut bahwa solusi yang dapat ditempuh adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai keahlian masing-masing, menjalin silaturahmi yang baik antara keduanya. Sebab pada dasarnya matematika murni dengan pendidikan matematika saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika dapat tercapai.


http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_7298.html

Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 25: Kompromi antar Pure Mathematics dgn School Mathemastics (Jawaban untuk Prof Sutarto Bgn Keempat)"


Seperti yang telah dirumuskan PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) bahwa terdapat Horizontal Mathematics dan Vertical Mathematics. Namun  sejak usia dini sudah dapat dikenalkan adanya Vertical Mathematics . Dalam Pure Horizontal Mathematics dan Pure Vertical Mathematics terdapat istilah Quasi-Mathematics, yaitu di tengah-tengah antara keduanya. Dan bagi seorang guru harus dapat mengajarkan yang qusi-mathematics tersebut  untuk pembelajaran di SD. Sehingga siswa hanya mempelajari matematika konkrit, bukan matematika abstrak yang masih membingungkan bagi siswa SD.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 3: Persiapan Teknis 2"


Ikhlas memang hanya untuk mengharapkan ridho dari Allah SWT. Kita hanya perlu untuk meningkatkan keikhlasan kita dalam beribadah, niat yang ikhlas, berbuat baik dengan sesama, dan sebagainya untuk meningkatkan amal kebaikan kita. Jangan hanya berbuat baik untuk dianggap baik oleh orang lain saja. Jadi, kita haruslah menumbuhkan rasa ikhlas dalam diri kita dalam setiap perbuatan yang akan dilakukan.

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas 2: Persiapan Teknis 1"


Dalam melakukan ibadah harus didasari rasa ikhlas dari dalam diri kita. Selain itu, berdasarkan artikel ritual ikhlas tersebut, hendaknya melakukan persiapan teknis yaitu dengan melakukan ibadah dengan tata cara dan sesuai dengan teknis yang benar. Dengan demikian kita dapat lebih meningkatkan kualitas beribadah kita, meningkatkan keikhlasan kita, dan mengharapkan ridho dari Allah SWT.


http://powermathematics.blogspot.com/2011/02/elegi-ritual-ikhlas-i-persiapan-teknis.html

Refleksi "Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal"


Dalam menjalani hidup ini kita sering kali lebih mengutamakan aspek duniawi semata. Kita kadang melupakan aspek akhiratnya. Dalam kegiatan sehari-hari misalnya bekerja dan mencari ilmu, kita belum memaksimalkan rasa ikhlas. Seperti dalam artikel tersebut, Cantraka Ikhlas sudah menunjukan rasa ikhlasnya dengan melakukan persiapan dari aspek religi bukannya dengan mengutamakan hal duniawinya. Berbeda dengan Cantraka Sakti yang lebih mengutamakan hal-hal duniawi dan melupakan persiapan rohaninya dalam kegiatan ritual ikhlas tersebut. Jadi, dalam melakukan setiap kegiatan, kita haruslah ikhlas dan menyerahkan segalanya kepada kepada Allah SWT.

Wednesday, May 8, 2013

Refleksi "Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?"


Metode pembelajaran yang biasa diterapkan di Indonesia yaitu metode ceramah. Metode ceramah ini mengutamakan guru sebagai pusat pembelajaran. Dengan demikian, siswa menjadi kurang aktif dan tidak dapat mengembangkan kemampuannya. Hal ini berbeda dengan pembelajaran matematika di negara-negara lain, misalnya saja di Inggris. Metode mengajar yang digunakan oleh guru di Inggris adalah metode diskusi. Di dalam diskusi siswa diberi kebebasan untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah. Siswa-siswa tersebut, dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kemampuannya. Dalam kelompok-kelompok kecil tersebut guru memberikan LKS yang berisi soal yang berbeda antar kelompok tersebut. Bahkan siswa diberikan kebebasan untuk menentukan materi apa yang ingin dipelajarinya. Dengan kata lain, siswa tersebut dapat menentukan kurikulum. Sebab kurikulum yang diterapkan di Inggirs adalah kurikulum yang dapat disesuaikan tiap sekolahnya.  Dengan adanya kurikulum yang fleksibel tersebut, siswa dapat menentukan materi apa yang mereka senangi untuk dipelajari dalam kelompok diskusi tersebut. Dengan keterlibatan siswa menentukan kurikulum, maka tidak ada rasa paksaan terhadap siswa dan siswa menjadi senang dan mudah dalam mempelajari matematika.

Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 4: Kompetensi Matematika juga Menghasilkan Mathematical Intuition"


Matematika tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sehari-hari. Mempelajari matematika dari yang paling sederhana juga yang berasal dari benda-benda konkrit disekitar kita. Lalu sampai pada hal-hal yang abstrak yang semakin tinggi tingkatannya. Tingkatan belajar matematika tersebut mempengaruhi pola pikir yang akan menghasilkan ide-ide dan gagasan yang semakin tinngi pula tingkatannya. Dalam mempelajari matematika, dibutuhkan intuisi untuk dapat memecahkan persoalan. Sehingga semakin tinggi kompetensi yang dicapai, maka intuisi pada siswa akan semakin berkembang.



http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6614.htm