Menurut Kant,
matematika akan menjadi ilmu apabila dibangun di atas intuisi yaitu ruang dan
waktu. Intuisi akan muncul jika adanya pengalaman-pengalaman, komunikasi, dan
sebagainya. Dalam ilmu pengetahuan harus seimbang antara logika yang bersifat
analitik apriori dengan pengalaman yang bersifat sintetik aposteriori. Tidak
hanya memiliki logika saja tapi tanpa adanya pengalaman atau pun sebaliknya,
tetapi keduanya harus seimbang dan saling bersinergi. Untuk itu, intuisi sangat
penting untuk dikembangkan kepada peserta didik agar siswa dapat memahami
matematika dan mampu mengembangkan kreativitasnya dalam belajar matematika.
Friday, April 19, 2013
Refleksi "Sekolah Bertaraf Internasional : Sebuah Epistemology"
Sekolah Berstandar Internasional atau SBI merupakan sekolah yang
dapat dikatakan sebagai sekolah unggulan dan menjadi favorit bagi sebagian
masyarakat. Namun, sayangnya dengan adanya sekolah bertaraf internasional
tersebut menuntut siswa yang bersekolah di sana selain memiliki kemampuan
intelektual yang baik tetapi juga dengan
kemampuan ekonomi kelas menengah ke atas. Selain itu, bagi sekolah yang masih
RSBI atau Sekolah Rintisan Berstandar Internasional, pengelolaan terhadap
materi dan metode penyampaian materi pelajaran kepada siswa juga hapir sama
dengan sekolah nasional pada umumnya. Dari metode mengajarnya juga masih
tradisional di mana guru yang menjadi pusat pembelajaran dan bahasa pengantarnya
juga masih menggunakan bahasa Indonesia, hampir sama dengan sekolah nasional
pada umumnya, perbedaannya hanya adanya label sekolah yang berstandar
internasional. Hal ini sangat disayangkan, seharusnya dengan adanya sekolah
yang mendapat label RSBI maupun SBI mampu meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia agar dapat bersaing dengan sekolah di luar negeri.
Thursday, April 18, 2013
Refleksi "Sekolah Bertaraf Internasional"
Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sesuai dengan namanya yaitu
sekolah yang sudah memiliki standar pendidikan yang bertaraf internasional.
Sekolah dengan label SBI ini dapat dikatakan sebagai sekolah yang menjadi
favorit bagi sebagian besar masyarakat. Untuk dapat menjadi sekolah berstandar
internasional tersebut , terlebih dahulu harus melalui berbagai tahapan yang
tidak mudah. Mulai dari sekolah yang berlabel RSBI atau sekolah Rintisan Sekolah
Berstandar internasional, selanjutnya harus memiliki IKKT (Indikator Kinerja
Kunci Tambahan) dari pencapaian delapan Standar Nasional Pendidikan. Untuk
dapat melalui IKKT tersebut juga tidaklah mudah, sebab pada sebagian besar
sekolah RSBI di Indonesia masih menggunakan metode mengajar yang tradisional di
mana guru menjadi satu-satunya sumber belajar, adanya dominasi oleh guru dalam
kegiatan pembelajaran, adanya rasa tertekan terhadap ujian nasional. Padahal
untuk dapat menjadi sekolah dengan standar internasional, harus memiliki
komponen-komponen yang juga berstandar internasional dan metode mengajar yang
bertaraf internasional pula. Misalnya metode mengajar di mana siswa yang
menjadi pusat belajar atau dengan kata lain siswa diberi kebebasan dalam mengeksplor
kemampuan berpikirnya sehingga siswa akan menjadi percaya diri dan menambah
kreativitasnya, dengan menggunakan metode diskusi, menggunakan beragam metode
dan media. Selain itu juga diperlukan guru yang juga berstandar internasional,
yaitu guru yang mampu menerapkan berbagai media belajar, mampu membuat LKS dan
menganggap bahwa mengajar sebagai penelitian.
Tuesday, April 9, 2013
Refleksi "News Update: Koalisi Pendidikan Menolak Kurikulum 2013"
Perubahan kurikulum pada pendidikan di Indonesia dari kurikulum
KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013 memang tidak memiliki dasar yang jelas dan
terkesan terlalu terburu-buru. Adanya perubahan kurikulum tersebut juga tidak
disertai dengan evaluasi dari kurikulum sebelumnya. Dan pemerintah dalam
melakukan perubahan kurikulum tersebut tidak melibatkan guru ataupun pakar pedagogik.
Padahal adanya perubahan pada kurikulum tidak secara langsung dapat diterapkan
dengan mudah dalam pembelajaran, tentunya hal itu akan hanya akan merepotkan
banyak pihak, terutama siswa dan guru. Siswa akan mengalami kesulitan untuk
menyesuaikan dengan kurikulum yang baru, sedangkan guru dalam mengajar juga
akan mengalami kesulitan ketika harus mengajar dengan kurikulum yang selalu
berubah. Menurut saya, pemerintah lebih baik meningkatkan mutu para pendidiknya
dengan mengadakan pelatihan-pelatihan daripada merubah kurikulum yang belum
pasti hasilnya. Dengan mengadakan pelatihan kepada guru-guru, maka secara tidak
langsung akan meningkatkan kualitas mengajarnya kepada peserta didik.
http://powermathematics.blogspot.com/2013/03/news-update-koalisi-pendidikan-menolak.html
Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition"
Saya sependapat
bahwa intuisi matematika itu adalah subject to cultural forces (budaya
matematika) dan intuisi matematika sangat penting untuk menghasilkan ide-ide
atau gagasan matematika. dan intuisi dalam pembelajaran matematika akan muncul
melalui pengalaman-pengalaman yang didapat oleh siswa dari kegiatan belajarnya.
Pengalaman yang telah dimiliki tersebut dapat memudahkan siswa dalam
menyelesaikan soal matematika dan dapat mengembangkan gagasan dan
kreativitasnya. Untuk itu, intuisi perlu adanya pembudayaan intuisi dalam pembelajaran
matematika. Tugas guru dalam pembelajaran matematika adalah bagaimana
mengembangkan intuisi siswa dan bagaimana membudayakan matematika pada siswa. Namun
dalam membudayakan intuisi pada siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab guru
saja, melainkan tanggung jawab semua pihak, sekolah, guru, dan masyarakat
(orang tua).
Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)"
Intuisi sangat penting peranannya dalam kegiatan pembelajaran,
terutama matematika. Menurut Thompson, intuisi matematika akan muncul setelah
adanya pengalaman. Dengan adanya intuisi, siswa dalam mengembangkan
kemampuannya dalam matematika, meningkatkan kreativitas dan kemandirian siswa
dalam menyelesaikan soal matematika. Namun, intuisi tidak akan tercapai jika
tidak didukung oleh sikap dan metode matematika (mathematical attitude and method)
dab sikap pendukung (supporting attitude) serta internal motivation (rasa
senang dan matematika yang menyenangkan). Sekarang ini, dalam mengajar siswanya
guru kurang dalam memberikan intuisi kepada siswa. Guru merasa tertekan dengan
adanya ujian nasional, sehingga guru akan mengajarkan siswanya dengan cara yang
instan melalui pemberian latihan-latihan soal setiap harinya tanpa memberi
pengalaman dalam mempelajari dan menyelesaikan persoalan matematika. Sehingga
siswa mulai kehilangan intuisinya dan merasa bahwa pembelajaran matematika
sebagai suatu beban dan pelajaran yang sulit bahkan menakutkan. Untuk itu, guru
seharusnya dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga akan
merasa senang dengan matematika dan merasa membutuhkan matematika sehingga
memiliki kemauan dari dalam dirinya untuk belajar matematika.
Refleksi "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 1: Intuisi dalam Matematika"
Intuisi merupakan kemampuan memahami suatu masalah atau pengetahuan
yang tidak dapat didefinisikan namun pengetahuan itu sudah tertanam dalam
pikiran kita, sehingga ketika kita akan menggunakan pikiran kita untuk
memecahkan suatu masalah, kita dapat menjawab atau menyelesaikannya tanpa
proses berpikir yang panjang, misalnya dalam pembelajaran matematika yaitu
mengenai konsep pangkal contohnya definisi panjang, luas, dan sebagainya. Intuisi
sendiri sangat penting peranannya dalam pembelajaran terutama pada pembelajaran
matematika. Untuk itu, bagi guru atau calon guru sangat penting untuk
mengajarkan dan member kesempatan kepada siswanya untuk mengembangkan
intuisinya. Intuisi didapat melalui komunikasi, melalui pengalaman siswa dalam menyelesaikan
masalah matematika, sehingga siswa dapat meningkatkan kreativitas dan potensi
yang dimilikinya.
Subscribe to:
Comments (Atom)